Tagged with fiksi

Sendiri

Kita pernah sepakat, bahwa sendiri bukan berarti seorang diri. Katamu bisa saja di tengah keramaian kita tidak merasakan kehadiran, bisa saja riuh dan bising tak terdengar. Bisa saja kita terkurung dalam perasaan kita sendiri. Bisa saja semua yang terjadi di luar diri kita adalah sesuatu yang ternyata tidak kita sadari keberadaannya. Kemudian setelah berdebat akhirnya … Continue reading »

Airmata Ini Menyadarkanku Kau Takkan Pernah Jadi Milikku

Jika mencintaimu adalah sebuah lagu, aku adalah seorang yang setiap saat menyanyikanmu. Bersenandung di sepanjang hari bahkan hingga malam berganti pagi. Tak pernah lelah, namun kau tak pernah mendengar Beribu malam terlewati dengan nyanyian tentangmu. Udara malam, gelap dan hening menjadi teman dalam dingin yang menusuk perasaan. Kau tak pernah mendengar Airmata ini menyadarkanku kau … Continue reading »

Hidup tidak melulu tentang cinta, akan ada banyak hal yang kemudian membuatmu mengenyampingkannya

“Hidup tidak melulu tentang cinta. Akan ada banyak hal yang kemudian membuatmu mengenyampingkannya.” “Seperti kamu, yang ternyata lebih memilih dia dan bukan aku.” “Itu bukan pilihan.” “Tapi takdir? Basi!” “Sudahlah! Tidak ada gunanya kita berdebat soal ini. Kamu bisa melanjutkan hidup sesukamu, jangan terpaku pada masa lalu. Aku akan tetap seperti ini. Tidak ada sedikitpun … Continue reading »

tapi kau lalu hilang ditelan kabut pagi

Aku tak akan lelah merinduimu, berharap bisa melihat senyum dan tatapan hangatmu di suatu pagi ketika hujan baru saja usai. Meski seperti tak mungkin, hati dan pikiranku masih tetap bersama membiarkan kenangan tentangmu menghias dalam bingkai-bingkai harap yang kujaga tulus di lubuk terdalamku. Kau adalah doa terindah yang masih tetap terlantun dalam senyapnya malam.  Impian … Continue reading »

Aku lelah mencintaimu

Aku lelah mencintaimu. Menunggumu, seperti hujan yang tak kunjung reda, kutunggu dalam gigil karena dingin yang mendekapku erat. Pun ketika kabut mulai beranjak, menghilang bersama remang senja yang perlahan datang bersama sunyi di antara derai hujan Beranjak perlahan menuju malam yang gelap, dan sepi… Di antara sunyi, mendengar suara hujan yang membasahi kaca jendela, meninggalkan … Continue reading »

did i hurt you?

“Did i hurt you?”, dia melontarkan pertanyaan itu lewat sebuah sapa tanpa tatap muka. Pada lewat tengah malam yang sunyi. Kami sudah bercakap sedari tadi, tentang banyak hal yang tidak begitu penting. Dan entah kenapa tiba-tiba dia kembali mempertanyakan hal ini. “Did i hurt you?” Kenapa masih saja merasa menyakiti?

Tapi kau pasti sedang bersamanya

Senja hampir tiba, kabut dingin mulai turun menyelimuti lereng gunung. Hujan yang sejak pagi tak henti-hentinya menghujam perut bumi mulai mereda, berganti gerimis. Gerimis yang walau tampak lemah gemulai membelai dedaunan di pinggiran hutan, namun terasa sangat kesyahduannya. Dan tak bisa kusangkal, meninggalkan jejak sendu di benakku yang hampa.