Pada sebuah tengah malam, pada saat seharusnya saya sudah terlelap dalam istirahat, terjadi sebuah diskusi dengan seorang sahabat saya yang (sepertinya) sama sintingnya dengan saya. Diskusi yang diawali dengan penyampaian keluh kesah dan rencana pengiriman surat komplen olehnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa itu pun dimulai setelah dia bertanya pada saya.
Seperti ini pertanyaannya, “Jadi menurut lo, Tuhan itu adil nggak?”
Saya jawab dengan pertanyaan, “Menurut lo adil itu gimana?”
Dia marah dan berkata, “Please ya, nyet! Jangan bikin kepala gue tambah pusing dengan pertanyaan lo. Gue cuma nanya pendapat lo, menurut lo Tuhan itu adil atau nggak?”
Sahabat saya yang satu ini, tidak akan puas jika saya menjawab pertanyaannya dengan kata-kata mutiara dan kata-kata penghiburan. Dan dia pasti dengan marahnya akan berkata : ngomong sih gampang! But you don’t know how it’s feel!
Maka saya menjawab, “Nggak tau, nyet!”
Dan dia tidak puas, sepertinya dia ingin sekali mendengar pendapat saya tentang Tuhan adil atau tidak. “Lo pasti tahu, ayo dong jawab pertanyaan gue!” Saya lalu menjawab, “Lo kenapa sih kayanya marah banget sama Tuhan? Bersyukur, jangan marah-marah mulu. Walaupun lo banyak masalah, lo masih jauh lebih beruntung dibanding banyak orang!”
Dan dia membalas, “Dan banyak juga yang hidupnya nggak ada masalah, bahagia tanpa kekurangan sesuatu apapun. Jauuuh lebih beruntung dari gue!”
“Itu kan menurut lo. Lo nggak tahu kan kehidupan mereka yang sebenarnya?”, balas saya lagi.
“Kenapa lo jadi ceramahin gue sih? Gue kan tadi nanya, menurut lo Tuhan itu adil apa nggak?” masih ngotot dia
Yang pasti Tuhan itu baik,” jawab saya
“Gue nanya Tuhan itu adil atau nggak? Bukan baik atau nggak?” masih aja dia ngotot.
“Lo pikir aja sendiri, gue ngantuk. Gue tidur dulu ye!” sayapun mengakhiri diskusi tengah malam itu.